Membuat Video ala Pearl Jam

Masih ingatkah Anda dengan video Untought Known yang diambil dari konser Pearl Jam di Berlin, Mei lalu? Video yang diambil dari notebook Apple tersebut ternyata merupakan praktik yang lazim dilakukan Pearl Jam untuk mendokumentasikan konser mereka. Situs Apple merilis kisah dibalik dokumentasi video Pearl Jam.

"Pearl Jam selalu melakukan segala sesuatunya menurut idealisme mereka," ujar manajer band, Kelly Curtis. "Dan mereka selalu menempatkan kepentingan fans di atas segelanya."

Sebagai salah satu pilar musik grunge, Pearl Jam terkenal atas sikap anti-mainstream yang merupakan jiwa dari spirit alternatif semenjak berdiri pada 1990. Meski berulang kali menghadapi tuntutan dari label (dulu: Sony) dan permasalahan legal (Ticketmaster), Pearl Jam tetap kukuh pada pendirian untuk tetap menjadi band rock yang independen.

Pearl Jam tak mau berkompromi dan tunduk pada kontrol korporasi. Band juga tidak meng-endorse publisitas berlebih, mengeluarkan butleg konser, menjaga harga tiket yang affordable, mendukung kegiatan amal serta kritis terhadap mekanisme bisnis di sekitar mereka.

"Mereka sangat protektif terhadap segala sesuatu yang berpotensi menjadi konsumsi masal," tandas editor video, Steve Gordon. "Dan dengan segala sesuatu yang berbau visual, Pearl Jam tak pernah tertarik untuk membiarkan kontrol dari pihak ketiga." Mereka hanya bergantung pada perangkat sederhana, berupa kamera DV dan beberapa software olah video seperti Final Cut keluaran Apple. Sistem yang biasanya (hanya) dimiliki oleh pegiat video independen atau amatir.

Selama bertahun-tahun, band membuat okumentasi film dengan perangkat tersebut, namun tidak begitu tertarik untuk menggunakannya. "Saya membuat arsip footage dan berharap suatu hari kita bisa melakukan sesuatu dengannya," kata Kevin Shuss, videografer Pearl Jam. "Kami mendokumentasikan tanpa dukungan sistem pascaproduksi yang mewah, atau menghabiskan banyak uang untuk mengolah gambar dan audio."

Beberapa kru cukup membagi tugas dengan bantuan perangkat Apple dan teknologi video digital. "Sistem itu memungkinkan untuk dikerjakan oleh sedikit orang, namun kualitasnya tetap harus bisa dipertanggungjawabkan secara profesional," tandas Shunn.

Sementara menurut Kelly Curtis, "3 DVD yang sudah dirilis (Touring Band, Live at the Showbox, Live at the Garden - red) menggunakan sistem sederhana ini. Tanpa sistem yang terlalu canggih bisa membuat kru kami bisa mengerjakan tanpa beban."

Pearl Jam tak menggunakan tenaga profesional. "Mereka sangat memercayai konsep puritas dalam bermusik," ujar Gordon. "Mereka tidak melangsungkan tur dengan 15 kontainer berisi dekorasi atau efek-efek panggung yang mewah. Hanya sekedar band dan sedikit tata cahaya. Mereka ingin semuanya (tetap) sederhana, karena segala sesuatunya adalah menyangkut musik dan audiens, bukan mereka. Jadi, bila banyak kru yang berseliweran di panggung, dengan crane, kabel dan segala sesuatunya, band merasa tidak nyaman."

Pearl Jam sudah merasa nyaman dengan apa yang mereka punya. "Kami hanya menggunakan tiga camcorders, dan sebagian besar digunakan handheld," tutur Shuss. "Kami bertiga bisa menangkap momen-momen konser tanpa harus menggunakan kru yang masif atau perangkat yang akan menutupi esensi sebenarnya dari konser: yaitu musik."

Gordon menambahkan, "Perangkat yang kami gunakan sudah disetujui Pearl Jam. Mereka bisa mendapatkan rekaman konser tanpa harus teganggu."

Lebih dari itu, Curtis menambahkan, "Proses itu hanyalah tim kami memfilmkan rekan-rekannya." Bekerja dengan kru yang dikenal adalah hal penting bagi band seperti Pearl Jam. "Kami seperti bagian dari keluarga, orang-orang yang telah dipercaya oleh band," tandas Gordon. Meski hanya bertiga, simplisitas perangkat yang mereka gunakan, menurut Gordon, sangat membantu masing-masing pihak untuk saling membantu.

Bahkan asisten Curtis, Liz Burns, juga acap ikut memegang kamera dan mendokumentasikan konser. "Pearl Jam tak ingin mempunyai kru film yang terpisah," tutur Liz. "Mereka juga tidak ingin mengubah segala sesuatu di panggung hanya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan video. Dengan cara itu, mereka tak merasa khawatir dengan penampilan di atas panggung. Dengan perangkat yang sederhana, kami bisa mendokumentasikan tanpa mengganggu audiens atau konser itu sendiri." (*/BIJA GUTOFF)

1 comments:

eftianto mengatakan...

Wow, gitu to... Orisinal bgt...